“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya “. (QS. Al-Baqarah: 136)
-----------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------
---------------------------------------------
Tafsir Ibnu Katsir
Allah Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa
beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka melalui Rasul-Nya,
Muhammad secara rinci, serta apa yang diturunkan kepada para nabi yang
terdahulu secara global. Allah Ta’ala telah menyebutkan beberapa nama
rasul, menyebutkan secara global nabi-nabi lainnya. Dan hendaklah mereka
tidak membeda-bedakan salah satu di antara mereka, bahkan hendaklah
mereka beriman kepada seluruh rasul, serta tidak menjadi seperti orang
yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada)
Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang
sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (lainnya).’ Serta bermaksud
(dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian
(iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.”
(QS. An-Nisaa’: 150-151)
Dalam kitab Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia
mengatakan, para ahlul kitab itu membaca Taurat dengan menggunakan
bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan menggunakan bahasa Arab untuk
orang-orang yang memeluk Islam, maka Rasulullah saw. bersabda:
“Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab dan jangan pula kalian
mendustakan mereka, namun katakanlah, Kami beriman kepada Allah dan apa
yang diturunkan-Nya.” (HR. Al-Bukhari).
Muslim, Abu Daud, dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa
Rasulullah dalam mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum shalat
Subuh, lebih sering membaca (pada rakaat pertama) ayat: aamannaa
billaaHi wamaa unzila ilainaa (“Kami beriman kepada Allah dan apa yang
diturunkan kepada kami.”)(al-Baqarah: 136) dan pada rakaat kedua
membaca: aamannaa billaaHi wasy-Had bi-annaa muslimuun (“Kami beriman
kepada Allah dan saksikanlah sesungguhnya kami adalab orang-orang yang
berserah diri.”) (QS. Ali Imraan: 52).
Al-Khalil bin Ahmad dan juga lainnya mengatakan: “Al-Asbath di
kalangan Bani Israil adalah seperti kabilah-kabilah yang ada di tengah
mereka.”
Imam al-Bukhari mengatakan, “Al-Asbath adalah kabilah-kabilah Bani Israil.”
Hal itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al-Asbath di sini adalah suku-suku Bani Israil dan wahyu yang diturunkan Allah Ta’ala kepada para nabi yang ada dari kalangan mereka.
Imam al-Bukhari mengatakan, “Al-Asbath adalah kabilah-kabilah Bani Israil.”
Hal itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al-Asbath di sini adalah suku-suku Bani Israil dan wahyu yang diturunkan Allah Ta’ala kepada para nabi yang ada dari kalangan mereka.
Dan Allah berfirman: wa qatha’naa bainaHumuts natai ‘asy-ratan
asbaathan (“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku.”) (QS.
Al-A’raaf: 160).
Al-Qurthubi mengemukakan: Mereka disebut “al asbaathu” diambil dari
kata “as sabthu” (berurutan), jadi mereka itu merupakan kelompok. Ada
juga yang mengatakan, “al asbaathu” berasal dari kata “as sabthu” yang
berarti pohon, artinya mereka itu banyak bagaikan pohon. Bentuk
tunggalnya yaitu “sibathatun”


0 Komentar